ads 728 X 90

Breaking News

Trindikasi Ada Kejanggalan, Pembangunan Taman Kehati Dilaporkan LSM Gajah Puteh keKejaksaan

MEMO online, Kuala Simpang – Lantaran trindikasi ada kecurangan, pembangunan taman keanekaragaman hayati (Kehati) oleh badan lingkungan hidup dan kebersihan (BLHK) Aceh Tamiang, dilaporkan  LSM Gajah Puteh ke kejaksaan Aceh Tamiang, Kamis (6/4/2017).

Laporan dugaan kejanggalan pembangunan taman Kehati yang berlokasi  di wilayah Sapta Marga Tualang Cut, Kecamatan Manyak Payed, Kabupaten Aceh Tamiang, diterima oleh M. Ilham SH selaku Kepala seksi intelejen.

Laporan dugaan kejanggalan pembangunan taman Kehati itu dilakukan, setelah  Direktur Eksekutif Gadjah Puteh, Sayed Zahirsyah, karena jauh sebelumnya  telah melakukan investigasi mengenai proyek tanaman kehati tersebut.
Ternyata, pembangunan tersebut terlihat kacau balau, dan terkesan seperti hanya akal akalan yang dilakukan oleh BLHK Aceh Tamiang.

Bahkan , lanjut Zahirsyah, taman yang di bangun pada lahan seluas kurang 1 hektar itu, dinilai kurang tepat sasaran, karena ratusan batang pohon yang ditanam bukan tanaman langka,  tanaman tersebut banyak tumbuh di kebun kebun masyarakat.

Pohon yang ditanam yang ditanam diatas tanah timbun itu menurutnya akan sulit untuk tumbuh subur karena tidak diberi pupuk perangsang, tanaman tersebut dikerjakan dengan main main yang kurang memberikan manfaat yang banyak.

“Dari hasil investigasi LSM Gadjah Puteh, dapat kami simpulkan bahwa, proyek taman Kehati yang dananya bersumber dari APBK Aceh Tamiang ini, dikerjakan secara abal-abal dan tidak memberikan manfaat bagi rakyat," kata Sayed Zahirsyah.

Bahkan tanaman kehati yang di sebut sebagai ruang terbuka hijau (RTH) dinilai sebagai alat untuk membuat proyek yang menguntungkan suatu kelompok/individu  tertentu saja,  sebagai bukti pada hamparan taman tersebut tidak satupu ada tanaman yang langka.

Namun tidak hanya itu, lahan Taman Kehati di Tualang Cut tesebut masih ada sengketa  dan dapat digusur kapanpun saja, karena lahan itu masih dikabarkan milik milik kampus Politeknik dan di area itu akan dibangun sebagai fasilitas perkampusan mahasiswa. Jika taman kehati di bongkar pemerintah daerah akan mengalami kerugian yang besar.

“Jika ini dikatakan RTH, maka perencanaannya wajib dipertanyakan, karena sudah salah kaprah. Ruang Terbuka Hijau, hanya ada dikawasan perkotaan, Manyak Payed tidak termasuk kawasan prioritas,” ungkap Sayed Zahirsyah.

Sayed juga berpendapat, sebaiknya taman kehati ditanami dengan tanaman tanaman yang khas kedaerahan Aceh tamiang yang saat ini sudah mulai terancam punah, seperti manggis, asam gelugur dan lainnya. 

Selain itu, Taman Kehati tidak harus berorientasi dengan tanaman buah-buahan saja, pohon kayu juga sangat relevan untuk ditanam di Taman Kehati. Dengan adanya pohon hutan, dapat mengundang keanekaragaman flora dan fauna sebagai salah satu bagian dari keanekaragaman Kehati.

“Sebenarnya tidak hanya pohon yang menghasilkan buah, pohon kayu hutan seperti damar, merbau dan meranti sangat baik untuk ada di Taman Kehati, karena pohon itu langka dan tidak boleh ditebang sembarangan. Anak cucu kita nanti, mungkin hanya tahu nama pohon tersebut, tapi tidak pernah melihat seperti apa pohonnya,” jelasnya.

Proyek Taman Kehati Manyak Payed, dengan nilai yang sangat besar yang dikerjakan CV. Trimedia Arya Gardatama (TAG), dengan nilai kontrak Rp 383.606.000, bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) 2016, pernah di Pansus oleh Komisi D DPRK Aceh Tamiang pada 17 Februari 2017 lalu.

Sementara terkait hal itu, Kasi Intelijen Kejaksaan Negeri Aceh Tamiang, M Ilham, SH, mengatakan, pihaknya akan mempelajari dan menindaklanjuti laporan LSM Gadjah Puteh tersebut. (rusdi/diens).


No comments