ads 728 X 90

Breaking News

Kisah Pilu Pensiunan Guru SD, Yang Gajinya Habis Dipotong Bank

       FOTO: Ahyat (60), Pensiunan Guru SD Saat Berada Didepan Kantor Pos Kalisat Jember

MEMO online, Jember – Sungguh ironis kisah hidup Ahyat (60), mantan guru SD, yang hidup sebatangkara di Desa Sumber Dumpyong, Kecamatan Pakem, Kabupaten Bondowoso.

Meski ia tercatat sebagai pegawai negeri sipil (PNS) golongan 2b dan bergaji sekitar Rp 3 juta, namun diusianya yang sudah tergolong sepuh dan sudah pensiun dari tugasnya, ia tetap bekerja keras banting tulang demi bertahan hidup.

Sebab, gaji pensiunannya  habis dipotong bank, dan hanya tersisa Rp 100 ribu.
“Gaji pensiunan saya habis dipotong bank mas, dan hanya tersisa Rp 100 ribu,” tuturnya sedih.

Sehingga, meski jalannya sudah tertatih, dengan berbusana muslim memakai kopyah dan celana hitam kombinasi baju kuning, serta tas warna hijau disanggul, ia melangkah dengan mantap menyusuri  jalan aspal sepanjang 15 km dari Arjasa menuju Kecamatan Kalisat Jember.

Tujuannya hanya satu, yakni memarani sisa pensiunannya yang hanya tersisa Rp 100 ribu, serta gaji ke 13 ke kantor pos.

“Saya tidak punya uang sepeserpun untuk naik ojek, makanya saya memilih jalan kaki,” terang Ahyat, dengan sedih.

Gaji pria sepuh Kelahiran 1 januari 1945 ini, yang sebelum pensiun menjalani profesi sebagai guru di salah satu Sekolah Dasar (SD) di daerahnya, habis untuk biaya berobat istrinya, pasca mengalami kecelakaan.

Meski begitu, nyawa istri tercintanya yang dibelanya matian – matian sampai menghabiskan gaji PNSnya, tidak tertolong. Ia pergi mendahuluinya menghadap sang Kholik.

Shingga hidup Ahyat menjadi sebatang kara, lantaran perkawinannya dengan istrinya tidak dikaruniai anak.

Rupanya, perjuangan Ahyat menjemput sisa pensiunannya ke kantor Kalisat Jember, belum membuahkan hasil. Sebab, Kantor Pos Kalisat yang dituju, sudah lebih dulu tutup dengan kondisi pintu sudah digembok.

Ahyat pun terlihat kebingungan, lantaran tidak memegang uang sepeserpun.

"Mungkin saya tidur di mushalla atau depan emperan toko sana. Sekalian menunggu hari Senin. Untuk berbuka cukup air putih di sumur sana," paparnya  dengan air mata berkaca-kaca.

Yang ada dibenaknya, hanya sebuah harapan besar, gaji ke 13 bisa turun sebelum hari raya. Yang jumlahnyapun tak seberapa.

Itupun sudah dipersiapkan untuk menutupi hutang di tetangga, yang ia pinjam selama dirinya sakit tak bekerja.

"Seperti inilah nasib mantan guru jaman dulu. Saya hanya punya harapan kepada pemerintah, saya tidak ingin belas kasihan, jangan sampai ada lagi pensiunan seperti saya," harapnya dengan nada terbata-bata.

"Gratiskan betul biaya pendidikan dan kesehatan, berikan penghargaan pada pejuang, karena jasa guru kalian seperti sekarang. Jangan pernah lupakan sejarahmu," pungkasnya. (Imam/diens)

No comments