ads 728 X 90

Breaking News

Diduga Gunakan Jaring Sarkak, Tiga Nelayan Asal Pulau Poteran Ditangkap


MEMO online, Sumenep -  Tiga nelayan asal Kecamatan Talango, Pulau Poteran, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur diamankan warga, saat mencari ikan di perairan Kesong Kalianget.

Tiga nelayan tersebut diamankan karena diduga menggunakan jaring sarkak, yang dilarang oleh undang-undang.

Tiga nelayan tersebut, diantaranya Rahwan (51), Sansul Bahri (26) dan Sahman (51). Sementara tiga nelayan tersebut diamankan warga, pada 7 Juni 2017 sekitar pukul 16.20 WIB.

”Mereka diamankan oleh warga karena menggunakan jaring yang dilarang UU, karena bisa merusak eokosistem laut,” kata Syarkawi, Ketua Forum Kelompok Nelayan Kabupaten Sumenep, Kamis (8/6/2017).

Dikatakan, penangkapan  itu berawal dari keluhan masyarakat Kalianget tentang ekosistem laut yang terus mengalamin perubahan. Salah satunya trumbu karang sudah mulau punah dan juga ikan jenis kecil dan besar sulit ditemukan. Sehingga nelayan yang menggunakan jaring tradisional merasa terganggu.

”Setelah dilakukan kajian, ternyata salah satunya karena penggunaan jaring oleh nelayan. Makanya kami bersama masyarakat menyisir setiap nelayan yang beroperasi di perairan Kalianget,” ungkapnya.

Setelah itu kata Sarkawi, masyarakat menemukan nelayan asal Pulau Poteran yang menggunakan jaring yang tidak bisa masyarakat pakai. Selain itun nelayan asal Poterang juga menggunakan Perahu Nelayan Sekar Famili GT 3.

Setelah diamankan, tiga orang itu digiring ke Kantor Satpol Air Kalianget. Namun, mereka tidak diproses hukum dan diperbolehkan pulang setelah menandatangani surat pernyataan bermaterai. Dalam surat itu salah satunya berisi perjanjian tidak akan mengulangi perbuatannya kembali.

”Ide itu bukan dari kepolisian, akan tetapi dari masyarakat dengan pertimbangan rasa kemanusiaan. Namun, jika mengulangi pasti akan proses sesuai hukum yang berlaku,” tegasnya.

Sementara Kasatpol Air Kalianget AKP Laudi Harsa Pramono membenarkan peristiwa tersebut. Namun, kedua belah pihak telah dipertemukan dan nelayan asal Pulau Poteran telah dibuatkan surat perjanjian.

Menurutnya, setalah dilakukan penyelidikan tindakan yang dilakukan oleh ketiga nelaya asal Poteran tidak ada yang melanggar hukum, termasuk penggunaan jaring dan juga perahu. Kata Laudi, persoalan itu terjadi karena kecemburuan social.

Masyarakat Kalianget biasanya menjaring ikan tanpa menggunakan perahu atau jalan kaki, sementara nelayan asal Pulau Poteran menggunakan perahu dan jaring semi modern. Sehingga masyarakat sekitar merasa terganggu karena hasil tangkapan masyarakat setempat berkurang.

”Tidak ada pelanggaran hukum, mungkin mereka berlatar belakang kecemburuan social,” tegasnya. (Edy/diens)

No comments