ads 728 X 90

Breaking News

Petani Tembakau Resah, Pemerintah Sumenep Belum Miliki Perda Penjualan Tembakau


MEMO online, Sumenep - Carut marutnya harga penjualan tembakau rajangan di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, dalam setiap tahunnya, membuat petani tembakau setempat resah.


Pasalnya, hingga saat ini para petani tembakau di Kabupaten paling timur pulau Madura ini, belum memiliki patokan, untuk menjual tembakau hasil taninya.

Hal itu dikarenakan pemerintah setempat belum memiliki perda, yang mengatur penjualan tembakau rajangan milik petani.

Sehingga, harga tembakau rajangan milik petani Sumenep, tidak menentu dan mudah dipermainkan oleh para pengusaha.

"Sumenep masih butuh perda tembakau soal harga minimum yang berlaku satu tahun," kata Zaenuri, Ketua Peguyuban Pemerhati Kelompok Tani (P2KT) Sumenep, Rabu (6/8/2017).

Menurutnya, jika sudah ada perda yang mengatur harga minimum, dipastikan nasib petani tembakau kedepan akan cerah dan tidak selalu merugi setiap tahun.

Dikatakan, ketika ada Perda harga tembakau, maka persoalan dapat diminimalisir. Sebab, setiap tahun Perda itu harus diganti sesuai dengan hasil sinkronisasi antara pemerintah, pabrikan, petani tembakau dan pihak legislatif.

"Selama ini meskipun harga tembakau hingga Rp30 ribu selalu merugi. Karena biaya yang dikeluarkan petani cukup besar," jelasnya.

Dirinya menyadari selama ini pemerintah daerah telah menerbitkan Perda Nomor 06 Tahun 2002 tentang Tata Laksana dan Retribusi Izin Pembeliam dan Pengusahaan Tembakau Madura. Namun, Perda tersebut dinilai kurang spesifik karena tidak mengatur harga.

Perda itu hanya mengatur terkait proses transaksi. Seperti yang ditegaskan Ayat (1) Pasal 10 menegaskan Pengambilan contoh (sample) dilakukan oleh pembeli secara baik paling banyak 1 (satu) kilogram per bal, namun dalam Ayat (2) Apabila transaksi gagal, contoh, (sample) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dikembalikan.

Sebelumnya, Kepala Bidang Perkebunan, Dinas Pertanian Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan Sumenep, Abd Hamid akan terus melakukan pemantauan terhadap perwakilan perusahaan yang melakukan pembelian tembakau rajangan di Sumenep.

Pihaknya berharap pihal gudang terus melakukan pembelian tembakau rajangan. Jika diperlukan pihak gudang memperpanjang waktu pembelian. Karena panen raya tembakau dipastikan tidak serentak tahun ini.

Itu disebabkan karena dimusim tanam tahun ini terjadi anomali cuaca. Sehingga banyak tembakau yang mati. "Baru Juli cuaca membaik, bahkan dibulan Juni masih terjadi hujan meskipun kecil," ungkapnya.

Berdasarkan data yang diterima, kata Hamid hanya 14.230,45 hektar dari ploting area lahan tembakau seluas 21.893 hektar yang terealisasi. Dengan target produksi 6 kwintal perhektar atau sekitar 85.380 ton.

"Ada kenaikan dibandingkan tahun lalu. Tahun 2016 hanya 8 ribu hektar dari ploting area 21 hektar yang terealisasi dengan produksi sekitar 6 kwintal tembakau rajangan," ungkapnya.

Di Kabupaten Sumenep terdapat tiga gudang besar tembakau perwakilan perusahaan yang melakukan pembelian tembakau rajangan setiap tahun, yaitu PT Gudang Garam di Kecamatan Guluk-guluk, PT Gudang Garam di Desa Patean dan Wismilak.

Saat ini yang melakukan PT Surya Kahuripan yang merupakan perwakolan PT Gudang Garam Desa Patean, dan PT Gudang Garam Kecamatan Guluk-Guluk. Harga terendah Rp28 ribu dan harga tertinggi Rp50 ribu perkilogram. (Ita/diens)


No comments