ads 728 X 90

Breaking News

Terkait Pelaporan Kasus KDRT Bripda SA, Pimpinan Polres Sumenep Siap Lakukan Mediasi



MEMO online, Sumenep – Hingga saat ini, pelaporan dugaan kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) Bripda SA (inisial), anggota Satlantas Polres Sumenep, oleh Lody Astria Ayu Larozy (22) yang tak lain istrinya sendiri, warga Desa Kebunagung, Kecamatan Kota Sumenep, terus menggelinding.


Bahkan dugaan kasus tindak kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan terlapor  pada korban, sejak keduanya masih bertunangan hingga terikat tali perkawinan, menjadi atensi khusus petinggi Polres Sumenep.

Sebagaimana pernyataan Wakapolres Sumenep, Komisaris Polisi Sutarno, yang  mengaku akan menindaklanjuti laporan tersebut, dan berjanji akan mempertemukan keduanya, duduk satu meja.

Hal itu akan dilakukan, karena kasus tersebut merupakan kasus internal rumah tangga, yang harus dicarikan solusi dengan cara memediasi kedua belah pihak secara kekeluargaan.

"Sebagai pimpinan Polres, kami tidak mau hanya mendengar pengakuan sepihak. Jadi kami akan pertemukan keduanya, suami istri ini duduk satu meja, untuk mengetahui apa duduk persoalannya," kata Kompol Sutarno, Sabtu (2/9/2017).

Dengan cara begitu, pihaknya berharap ada solusi terbaik bagi kedua belah pihak, mengingat kasus tersebut merupakan konflik dalam keluarga.

"Kami yakin, selama kedua belah pihak punya niatan untuk mencari jalan terbaik, Insya Allah ada solusi. Kami akan membantu semaksimal mungkin, karena ini adalah keluarga besar kami. Keluarga besar Polri," papar Sutarno.

Sebagaimana pengakuan orang tua korban sebelumnya, Lody Astria Ayu Larozy, menjadi korban kekerasan Bripda SA, anggota Satlantas Polres Sumenep, sejak masih tunangan.

"Anak saya ini, ternyata bukan baru sekali dipukul suaminya, tepatnya setelah dua bulan menikah. Cuma anak saya memang sengaja tidak mau cerita," kata Asmuni, ayah Lody Astria Ayu Larozy.

Sehingga pihaknya dengan korban, melaporkan kasus dugaan KDRT tersebut ke Mapolres Sumenep, pada Kamis (31/08/2017).

Dalam pengakuannya, korban mengaku dipukuli suaminya pada 13 Agustus 2017 lalu. Dan akibat tindak kekerasan tersebut, pihaknya mengalami luka lecet di tangan kanan dan kiri, juga di pahanya.

Sementara tindak penganiayaan itu terjadi di rumah suaminya di Desa Jambu, Kecamatan Lenteng.

Kasus tersebut bermula saat Bripda SA pulang ke rumah dalam keadaan mabuk. Ketika ditanya, pelaku malah marah-marah dan memukul istrinya.

"Ternyata menurut cerita tetangga-tetangga, suami anak saya ini memang sering mukul. Kadang mencekik. Bahkan itu terjadi sejak mereka masih bertunangan. Hanya saja anak saya gak pernah cerita. Baru sekarang ini terungkap," ujar Asmuni.

Atas peristiwa tersebut, pihaknya berharap pimpinan Polres Sumenep memproses kasus dugaan KDRT yang menimpa anaknya, dan bisa memberikan sanksi tegas terhadap pelaku.

"Saya berharap pimpinan Polres bisa bersikap tegas terhadap tindakan anak buahnya. Kalau memang salah, ya harus diproses sesuai aturan," pungkasnya. (Ita/diens)

No comments