ads 728 X 90

Breaking News

Belum Ada Penetapan Tersangka, LIPK Tagih Janji Polres Soal Kasus Pasar Pragaan


MEMO online, Sumenep - Aktifis Lembaga Independen Pengawas Keuangan (LIPK) Sumenep, Madura, Jawa Timur mempertanyakan perkembangan kasus dugaan korupsi renovasi pasar tradisional Pragaan. Pasalnya kasus yang dilaporkan tahun 2014 itu, hingga saat ini Polres Sumenep belum menetapkan tersangka.


Padahal kata Saifuddin, sekitar satu bulan sebelumnya, jajaran petinggi Korps Bhayangkara Sumenep mengaku telah mengantongi nama tersangka.

"Kami tagih janji itu, karena sudah satu bulan belum juga ada tersangkanya," kata Sai panggilan akrabnya Saifuddin, Rabu  (1/11/2017).

Oleh sebab itu, Sai menduga lambannya penetapan tersangka dusebabkan adanya unsur permainan. 

"Jangan-jangan Polres mau bermain-main dengan kasus ini, hingga saat ini berkas perkaranya belum juga dilimpahkan ke Kejaksaan. Ini menjadi tanda tanya besar bagi kami," ungkapnya.

Dirinya mengaku akan mengawal kasus tersebut hingga tuntas. "Siapapun yang terlibat harus mempertanggungjawabkan di depan hukum," tegasnya.

Sebelumnya, Kapolres Sumenep AKBP H Joseph Ananta Pinora, Kamis, (28/9/2017) menegaskan jika akan ada tersangka dalam kasus tersebut.

"Kemarin anggota yang melakukan update penyidikan terakhir, perkara itu bisa maju. Yang jelas tersangka kemungkinan bukan dari pegawai negeri," kata Kapolres Sumenep, AKBP H Joseph Ananta Pinora, Kamis, 28 September 2017.

Menurutnya, berdasarkan hasil penyelidikan pekerjaan proyek senilai Rp2,5 miliar ditemukan adanya pengurangan. Sehingga berpotensi merugikan negara. "Ditemukan pengurangan spesifik," jelasnya.

Kendati demikian, mantan Kasat Intel Polrestabes Surabaya itu belum bisa menentukan kapan penetapan tersangka dilakukan, termasuk identitas rekanan. Apakah calon tersangka dari rekanan atau dari kosultan proyek.

"Nanti update lagi. Kalau calon tersangka tidak bisa dipiblikasikan," terang Pinora.

Renovasi Pasar Pragaan dianggarkan melalui dana APBD 2014 senilai Rp 2,5 miliyar. Pekerjaan itu diduga tidak sesuai spek. Salah satunya pada paving dan pada pembangunan los pasar, yakni pada kuda kuda los, yang diduga menggunakan kayu lokal. Saat ini sebagian pasar sudah rusak.

Dalam kasus ini penyidik penyidik telah melakukan pemeriksaan saksi-saksi, baik kepada rekanan yang mengerjakan proyek atau PA dan sejumlah pihak terkait di Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumenep. 

Bahkan beberapa waktu lalu dikabarkan tim penyidik telah melakukan pemeriksaan kepada konsultan proyek renovasi pasar tradisional terbesar di wilayah barat Kabupaten Sumenep itu.

Selain itu, penyidik juga telah melakukan audit investigasi dibidang kontruksi. Audit itu dilakukan oleh tenaga ahli dari Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang. Hasilnya tim menemikan potensi kerugian negara sekitar Rp420 juta. (Ita/diens)

No comments