ads 728 X 90

Breaking News

Sajikan Literasi Digital, Hairul Himbau Mahasiswa Beralih Dari Print ke Screen


MEMO online, Bondowoso - Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Wahid Hasim Politeknik Negeri Jember Kampus Bondowoso, menyelenggarakan Seminar Penguatan Literasi Digital, Sabtu (11/11/2017).


Kegiatan tersebut, digelar di Aula DEKOPINDA Bondowoso, dan dihadiri kader PMII se-kabupaten Bondowoso dan se-Tapal Kuda.

Sedangkan pemateri dalam kegiatan tersebut, Mohammad Hairul, S.Pd., M.Pd., Pegiat Literasi Nasional sekaligus Peraih Penghargaan Literacy Awards 2017 by Baznas dan Republika.

Sementara acara yang bertema “Menumbuhkan Kader Milenial yang Melek Teknologi” digelar pukul 10.00 dan berakhir pukul 14.00 WIB.

“Tidak bisa dipungkiri sekarang ini kita hidup di dalam generasi Z, generasi yang begitu cepat. Karenanya kami mengangkat tema seminar penguatan literasi digital sebagai upaya melek teknologi” kata Firman Hidayat, selaku ketua panitia.

Sementara Saiful Hoir,  selaku Ketua Komisariat menghimbau agar kepengurusan yang baru dilantik agar tetap solid dalam menjalankan proses kaderisasi.

“Tantangan kita ke depan semakin berat. Menghadapi semua itu saya himbau agar seluruh pengurus komisariat terus solid,” ujar Saiful.

Selaku pemateri, Hairul memulai pemaparan dengan menceritakan bagaimana di peta ada istilah Timur Dekat, Timur Tengah, dan Timur Jauh.

“Masyarakat Eropa di masa lalu penuh rasa ingin tahu. Mereka penasaran untuk mencari tempat matahari terbit. Dari penjelajahan mereka ke arah timur, mereka kemudian menuliskan laporan dan membuat penamaan wilayah-wilayah itu,” kata Hairul.

Selain itu, Hairul juga menyajikan klasifikasi penghuni era digital. “Di era digital ini, hidup bersama dua generasi yang berbeda. Ada yang merupakan digital native, dan ada yang digital immigrant”. Menyikapi kondisi tersebut literasi digital menjadi kebutuhan, terlebih menghadapi persaingan global di abad-21.

Di akhir pemaparan, Hairul menghibau agar mahasiswa menjadikan teknologi bukan sekadar gaya hidup, namun juga sebagai gaya belajar. Saatnya mahasiswa mencari referensi kuliahnya bukan sekadar buku cetak, namun bisa hunting referensi berupa buku digital.

“Beralihlah dari print ke screen,” imbuh Hairul. 

Pewarta : Arik Kurniawan

Editor : Udiens

No comments