ads 728 X 90

Breaking News

Serobot Tanah Warga, Proyek Embung 'Siluman' di Guluk-Guluk Disoal


MEMO online, Sumenep - Pembangunan proyek embung air yang diduga  "siluman" di Desa/Kecamatan Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, disoal warga.


Pasalnya, proyek embung tersebut dibangun di tanah milik warga tanpa meminta ijin pemilknya terlebih dahulu.

Selain itu, rekanan tidak memasang papan nama, meski pekerjaannya tengah berlangsung.

Sehingga pekerjaan itu dianggap ilegal atau proyek ‘siluman’ oleh warga.

Fauzi (50), selaku ahli waris mengaku tidak pernah dilibatkan dalam musyawarah pembangunan tersebut. Rekanan proyek tiba-tiba langsung menyerobot dan menggarap lahan milik orang tuanya itu.

"Saya tidak tau harus mengadu pada siapa, lahan orang tua saya di ambil begitu saja," katanya kepada awak media.

Lebih kesal lagi kata Fauzi, puluhan pohon jati ditebang sembarangan. Bahkan kayu jati berumur sekitar 5 tahun lebih diambil oleh orang yang tidak bertanggungjawab.

"Banyak pohon jati yang ditebang, yang diketahui sekitat 4 mobil pickup yang mengangkut saat itu," jelasnya.

Meskipun mengetahui adanya pembangunan itu, pihaknya tidak bisa berbuat banyak, termasuk menghentikan pekerjaan tersebut.

"Saya orang awam, mau menghentikan khawatir saya dipermaslaahkan nanti," jelasnya.

Tidak adanya pemberitahuan pembebasan lahan itu dibenarkan oleh Matrapik salah satu aparatur Desa/Kecamatan Guluk-Guluk. Menurutnya, pembebasan lahan milik warganya tanpa melalui musyawarah kepada pemilik atau ahli waris.

"Ada lima pemilik lahan yang tidak dibebaskan. Sementara pohon jati yang ditebang sekitar 50 unit," jelasnya.

Salah satu aktifis Peduli Rakyat Sumenep Holis menyayangkan pembangunan proyek tersebut. Karena setiap proyek pembangunan pasti dilakukan pembebasan lahan terlebih dahulu.

"Itu ada anggaran tersendiri," katanya.

Oleh sebab itu, pihaknya menduga pelerjaan proyek embung sarat permainan.

"Bisa saja, karena pekerjaannya sudah tidak transparan," tegasnya.

Kepala Dinas Sumber Daya Air Eri Susanto belum bisa dimintai keterangan. Saat dihubungi melalui sambungan teleponnya tidak merespon meskipun nada sambungnya terdengar aktif.

Informasi yang berhasil dihimpun media ini, proyek tersebut dibiayai melalui APBD tingkat satu atau APBN. Itu terlihat dari nomor surat kontrak kerja 042/SPMK/PPK IV-SPKP/DPDTT/IX/2017.

Sementara rekanan yang mengerjakan sesuai didalam surat kontrak kerja adalah CV Rantai Emas. (Ita/diens)

No comments